Palembang - Festival Palembang Bingen dalam Bingkai Emas bersama Pemerintah Kota Palembang, di Balai Kota Palembang, Jum\'at (10/02/2017) berlangsung seru. Kegiatan yang dimotori Dinas Pariwisata Palembang, dan berlangsung selama hingga 20 Februari, ini menyuguhkan sejumlah acara. Antara lain, lomba foto pariwisata, pameran foto, workshop, lomba lukis tingkat pelajar, lomba lukis unik (di kain jumputan, piring,), hingga pasar terapung.

Wali Kota Palembang Harnojoyo yang membuka langsung kegiatan ini, mengatakan, zaman bingen (dulu) seolah merupakan barang yang kedaluwarsa.

“Padahal, yang lama-lama itu sangat menarik, apalagi untuk pariwisata.”

Harnojoyo mencontohkan kantornya, kantor Wali Kota Palembang. Dulunya kantor ini bekas kantor ledeng di masa penjajah Belanda. Kini, dengan penataan seperlunya, kantor Wali Kota Palembang jadi kantor yang elegan, bagus, tanpa kehilangan nilai “kebingenannya”.

Dipilihnya Balai Kota sebagai tempat kegiatan budaya dan kesenian, seperti pameran foto, lukisan, kata Harnojoyo, menunjukkan sinergi yang baik.

“Selama ini, kantor ini biasanya nuansa wah, berwibawa, atau semacamnya. Pada hari ini kita mengubah  semua itu. Kita mengubah alur, lebih terbuka bagi masyarakat. Silahkan, asal tidak mengganggu kegiatan lain,” ujar Harnojoyo.

Soal Pasar Terapung, Harnojoyo menyambut baik.

“Kita akan kembalikan fungsi sungai lagi. Sebagai alat transportasi, sebagai kegiatan ekonomi kerakyatan. Karena kita ketahui, sungailah yang membawa Sriwijaya maju.

"Seperti Sungai Bendung. Dulu di sungai ini perahu bisa masuk, airnya bisa diminum, dan tempat anak-anak bermain. Sekarang sungai ini memberikan bau tidak sedap, penuh eceng gondok, dan berlimbah," Harnojoyo mengatakan.

Ia juga menyatakan senang dengan digelar kegiatan-kegiatan semacam ini. “Kita apresiasi. Apalagi yang ditampilkan adalah khazanah budaya dan sejarah Palembang.”

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani, mengatakan, pariwisata itu harus memiliki tiga poin, yakni unik, khas dan wah. Jika ketiga point tersebut tidak ada, maka tidak bisa menjadi kegiatan wisata. Sedangkan kegiatan hari ini sejalan dengan ketiga point tersebut.

"Pak Wali maunya itu permanen, Balai Kota Palembang ini sekaligus menjadi balai seni, atau galeri.

Selain foto-foto tentang budaya, bangunan bersejarah atau bangunan ikonik Kota Palembang.”

“Ke depan, ktia akan bekerja sama dengan perajin kain tradisional. Produk kain songket, kain blongsong, kain jumputan, kain tanjung, bisa dipamerkan di sini. Galeri ini menjadi ajang promosi bagi mereka, tapi tak untuk dijual," Isnaini menerangkan.

Menurut Isnaini, Palembang memiliki banyak potensi wisata. Seperti Al Quran besar di Gandus, Kampung Kapitan,  Kampung Al-Munawar, Pulau Kemarau, Bukit Seguntang, dan keindahan sungai Musi dan Jembatan Ampera, termasuk Pasar Terapung.

"Hari ini baru uji coba. Harapan kami terus ada dan masyarakat banyak yang mengunjungi. Harga di pasar terapung itu jauh lebih murah. Tadi ada yang beli ikan harganya lebih murah Rp 10 ribu dari pasar biasanya,” kata Isnaini.

Ia menyebutkan pedagang Pasar Terapung di Sungai Sekanak, berasal dari pinggiran, dari Karya Jaya, Kecamatan Kertapati. Barang yang mereka jual tidak banyak melalui rantai distribusi. Mereka jual langsung.

“Tadi barangnya masih 50 persen barang tradisonal, dan 50 persen barang jadi, yang ada di supermarket. Ke depan, kalau bisa daganganya barang tradisonal, misal sayur-sayuran, buah-buahan, ikan atau olahan makanan tradisional," kata Isnaini pula.

Kati, salah seorang pedagang di Pasar Terapung Sekanak, mengatakan, ia dapat informasi soal Pasar Terapung ini dua hari lalu. Ia ditawari berdagang di Sungai Sekanak. Kati setuju.

“Saya jual pisang dan pempek. Hari ini cuma laku sedikit. Tidak apa-apa. Namanya juga baru. Masih belum banyak yang tahu,” ujar Kati. (*)