Palembang - Dinas Kesehatan Kota Palembang tergetkan penemuan kasus penyakit tuberculosis(TBC) meningkat 5 persen per tahunnya. Hal ini sesuai dengan intruksi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. "World Healt Organization (WHO) menergetkan 2050 bebas TBC, dan 2035 eliminasi kasus TBC, yakni 1/1 juta penduduk di dunia.

Untuk sekarang masih berada di angka 399/100 juta, penduduk, atau sekitar 39/1 juta pe duduk. Karena itu, untuk menuju eliminasi kasus TBC tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menargetkan penemuan kasus persen per tahun," sebut Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, dr Letizia melalui Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian penyakit Dinkes Palembang, dr Fauziah.

"Kita harus menemukan sebanyak-banyaknya penderita TBC, agar bisa ditangani, diobati, dan mencegah penyebaran, memutus rantai dan eliminasi tercapai.

Kita lakukan ketuk pintu atau door to door sosialisasi dan melakukan pemeriksaan ke masyarakat dengan program Gerakan Temukan Obati Sampai Sembuh. Orang-orang yang kontak langsung dengan penderita TBC berpotensi terkena penularan, karena itu perlu juga dilakukan pemeriksaan, terlebih balita lebih rentan, meskipun tidak ada gejala TBC, jika berada di lingkungan yang terkena TBC harus dilakukan periksaan di Puskesmas, Rumah Sakit, atau klinik," jelas dia.

Untuk di Palembang sendiri, pada  2014 ditemukan 131 /100 ribu penduduk, 2015 ditemukan 156/100 ribu penduduk, ditemukan 176/100 ribu penduduk. Dari data tersebut,  55,7 persen merupakan penderita TBC baru dengan bakteri tahan asam (BTA) positif, dan penderita  TBC baru dengan  BTA negatif, 8,5 penderita TBC ekstra paru-paru, dan  4,5 persen penderita TBC anak.

"TBC ini disebabkan oleh  micro bactery tuberculosis. Yang menyerang segala usia, terutama yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah (imunitas), seperti prokok, penderita penyakit lain yang menyerang imunitas, di antaranya penyakit lupus, auat HIV Aids. TBC juga tidak hanya pada paru-paru, ada juga TBC ekstra paru-paru, seperti di tulang atau di kelenjar getah bening (biasanya di sekitar leher)," ungkapnya.

Maka, masyarakat harus mengenali gejala-gejala yang timbul, antara lain; batuk selama dua minggu lebih (bisa  atuk berdahak atau kering), batuk berdarah, deman tidak terlalu tinggi, turun berat badan, nafsu makan berkurang, sore atau malam berkeringat tanpa sebab, nyeri dada, untuk balita dua kali menimbah tidak naik, dan untuk TBC kelanjar ada pembesaran kelenjar tanpa sebab.

Selain itu, mengingat penyebaran TBC bisa melalui udara. Prilaku batuk harus diperhatikan, adalah ketika sakit  batuk, atau flu harus harus pakai masker,  saat batuk atau bersin harus ditutup mengunakan pakai lengan, tidak mengunakan tangan, sebab tangan lenih sering kontak fisik dengan banyak orang, kalau pun pakai tangan harus dilapisi dengan sapu tangan atau tisu, setelah itu dibuang.

Meskipun demikian, TBC ini bisa sembuh, apabila penderita melakukan pemeriksaan, pengonatan dan mengikuti saran dokter.  Sebab, jika tidak disiplin minum obat, kuman bisa jadi resisten dan pengobatan menjadi semakin sulit.

"Kalau ada gejala, dahak di periksa di laboratorium, kalau positif, pasien harus mengikuti rangkain pengobatan, seperti minum obat minimal 6 bulan jangan sampai telah sekali pun. Untuk obat-obatan gratis. Kami pun mengharap kepada pihak dari swasta untuk memakai obat-obatan yang telah diprogramkan," tuturnya.