Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penanganan dan pencegahan virus flu burung yang merebak di Kelurahan Kalidoni, Kecamatan Kalidoni, Rabu (12/2).

Dikatakan Fitrianti, karena adanya beberapa peternakan yang sudah terindikasi oleh flu burung, sehingga membuat khawatir masyarakat. Dan virus flu burung ini sudah masuk di beberapa peternakan di kelurahan Kalidoni.

"Bahwa di Kalidoni positif flu burung, jangan sampai penyebarannya ke mana-mana. Oleh karena itu, saya mengadakan pertemuan ini untuk kita melakukan pencegahan agar unggas lainnya tidak terkena flu burung," kata Fitrianti.

Sosialisasi pencegahan flu burung ini melibatkan dinas terkait, seperti Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan. 

"Walaupun saat ini sudah ada obatnya terkait masalah flu burung. Kita ingin sampai di sinilah, jangan sampai menyebar ke tempat lainnya," ujar Fitrianti.

Ia menyebutkan, ada sekitar 600 unggas yang telah mati, di Kalidoni dan di Kecamatan Sematang Borang. Namun, untuk hewan yang terkena flu burung, lebih banyak ayam.

"Memang penularannya melalui unggas, seperti burung, ayam dan lainnya. Akan tetapi, ini bisa menyebar ke manusia. Segera laporkan kepada kami kalau ada flu burung. Jangan sampai ini terjadi lagi. Untuk menghindari hal-hal ini, kita tidak boleh ada kontak langsung dengan hewan," Fitrianti menjelaskan. 

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kota Palembang, Sayuti, menerangkan, kasus flu burung berasal dari Cina, sudah ada sejak 1997, masuk ke Indonesia pada tahun 2005, dan puncaknya di tahun 2007. 

"Tapi kalau kasus manusia sampai saat ini belum ditemui, kalau keunggas sudah banyak sekali," ujar Sayuti. 

Diceritakannya, beberapa waktu lalu ada sedikit kasus di daerah Plaju. Ada warga yang melapor ternaknya kena flu burung. Sehingga dilakukan pemusnahan.

"Mengapa penyakit ini berbahaya, jadi kalau ada hewan satu yang kena, dalam waktu satu minggu tidak ada penanganan habis semua hewan satu kandang, pada mati," terangnya.

Masa inkubasi ternak selama 2-5 hari. Lanjutnya, kalau ada ternak yang mati, jangan membuang bangkai ternak di kolam atau di sampah, sehingga ini bisa menyebar.

"Kalau ada indikasi ternak mati, segera dibuat lubang sedalam lutut dewasa dan ayam yang mati dibungkus kantong lalu di kubur atau di bakar," demikian Sayuti.